Yuk Pilih Gigitan Menyenangkan Bagi Si Kecil

Little baby girl playing with teething toy

Saat si kecil memasuki usia 6 bulan, kebutuhan obyek untuk digigit kerap dibutuhkan, seiring munculnya gigi pertama si kecil. Tak selalu produk mainan bayi, ternyata gigitan bisa dibuat sendiri dengan bahan-bahan yang lebih menyenangkan, seperti bahan makanan bayi instan dan sebagainya.

Umumnya mainan teether (gigitan) sering menjadi obyek paling sering digunakan untuk kebutuhan gigit-gigitan bayi. Tak harus menggunakan alat ini, atau menggunakan jari bayi, ternyata untuk kebutuhan ini kita bisa menyiapkan beberapa hal. Berikut diantaranya ;

Roti bagel beku. Jenis roti ini mudah didapat di toko yang menjual kebutuhan dan perlengkapan bayi. Ciri roti ini adalah mudah hancur, dan melunak saat terkena air, (Termasuk air liur si kecil). Roti jenis ini bisa digunakan untuk gigit-gigitan.

Caranya, Anda dapat membekukan jenis roti ini, kemudian berikan pada si kecil. Cara ini selain dapat melatih gigitan si kecil, senssi dingin juga dapat membuat gusi si kecil nyaman. Lakukan beberapa kali dalam sehari, sebagai variasi alat gigitan si kecil.

Kombinasi Waslap dan Chamomile. Untuk membuat gigitan dengan cara ini Anda bisa mengkombinasi waslap kecil kedalam teh chamomile. Setelah itu, bekukan hingga kaku. Selain dapat digunakan untuk gigitan yang menyenangkan bagi si kecil, khasiat bunga Chamomile dapatmembantu meringankan rasa tak nyaman pada gusi yang bengkak.

Sementara tekstur kain waslap, akan membuat sensasi dingin yang membuat gusi mati rasa untuk sementara. Berikan komposisi gigitan bayi ini dalam beberapa kali dalam seminggu sebagai variasi gigitan bayi.

Kombinasi es batu dan Waslap. Jika tak ada teh Chemomile, Anda bisa menggunakan cara lain yang dapat dikombinasikan dengan waslap. Yakni dengan menggunakan es batu. Cara ini dapat dilakukan dengan cara yang sama, dibekukan sebelum diberikan untuk menjadi gigitan si kecil.

Buah dan alat gigtan, Mesh Feeder. Mesh Feeder adalah alat gigitan yang dapat digunakan untuk memperkenalkan buah pertama kali ke bayi. Gunakan berbagai jenis buah-buahan yang aman dikonsumsi si kecil sesuai dengan usianya. Lalu masukkan ke dalam Mesh Feeder, sebelum pada akhirnya diserahkan ke si kecil untuk alat gigitan. Selain melatih pergerakkan rahang dan merangsang tumbuhnya gigi, cara ini lebih sehat, karena nutrisi dan gizi yang ada pada buah-buahan.

Wortel. Jenis sayuran ini dapat dibekukan untuk kebutuhan gigitan si kecil. Untuk menyajikannya, bersihkan dan berikan dalam bentuk utuh, usahakan jangan potongan kecil. Karena kemungkinan tertelan akan semakin besar jika Anda memberikan dalam bentuk potongan kecil.

Sesuai dengan ukuran yang sesuai dan tak memungkinkan tertelan. Bekukan wortel sebelum memberikannya sebagai gigitan si kecil. Seperti memberikan buah, cara ini akan memberi kebaikan wortel untuk kesehatan si kecil.

Sendok dingin. Gunakan sendok yang aman saat digigit, atau gunakan sendok yang ujungnya terbuat dari karet. Untuk menggunakannya, dinginkan terlebih dahulu sendok, sebelum pada akhirnya diberikan untuk menjadi gigitan.

Advertisements

Posted in Baby

Permalink

Tips Menggendong dengan Baby Carrier

Baby Carrier

Sudah bukan hal baru lagi, demi kebutuhan menggendong si kecil, banyak produk Baby Carrier dengan kelebihan dan keistimewaan masing-masing di pasar. Meski sederhana, dan dapat dipakai dengan cara simple, tak jarang orangtua ragu untuk menggunakannya, bahkan tak sedikit diantara mereka yang meragukan keamanan alat tersebut bagi Healthy & Safety si kecil saat di gendong.

Ada dua hal yang bisa didapat dari penggunaan Baby Carrier yang baik dan tepat. Pertama mempermudah orangtua dalam hal menggendong si kecil, dan bagi bayi, alat ini akan membuat mereka nyaman dalam bekapan.

Meski demikian, tak hanya di Indonesia penggunaan Baby Carrier juga kerap menimbulkan kontroversial di luar negri, termasuk di Amerika. Meski fakta yang diungkap oleh US Consumer Product Safety Commission (CPSC), dalam 20 tahun terakhir, hanya ada 14 kecelakaan yang membuat bayi meninggal dalam dekapan orangtua, karena Baby Carrier model sling.

Dalam kasus kematian bayi karena Baby Carrier sling, 12 korban tewas berusia dibawah empat bulan. Kecelakaan umumnya terjadi disebabkan karena bayi yang masih belum mampu mengangkat kepala. Dan parahnya, Baby Carrier sling tersebut menekan bagian mulut dan hidung, sehingga bayi tak bisa bernafas, hingga meninggal kerena tercekik.

Sementara itu, penggunaan Baby Carrier juga tak disarankan untuk bayi dalam kondisi tertentu. Seperti bayi kembar, bayi yang lahir prematur, atau bayi dengan berat badan rendah. Ketiga kondisi bayi ini kerap mengalami masalah saat dibawa dengan Baby Carrier. Jika masih tetap menggunakannya, konsultasi dengan dokter adalah solusi boleh tidaknya Anda menggunakan Baby Carrier.

Selain memutuskan akan membeli Baby Carrier, kesiapan orangtua dalam menggunakan alat ini sangat dibutuhkan, untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan. Untuk mempersiapkan hal ini, Anda dapat membeli produk Baby Carrier, dan mengenakannya dengan berlatih menggunakan boneka.

Gunakan boneka dengan berat dan besar seperti bayi. Dalam hal berlatih, usahakan posisi tubuh tidak melakukan beberapa hal. Diantaranya menggendong dengan posisi badan membungkun, menekuk lutut. Posisi ini biasanya menyebabkan beberapa kejadian kecelakaan kerap terjadi karena tersangkut dan jatuh.

Dalam posisi menggendong, posisi tangan sangat menentukan. Dalam hal ini, kekuatan dan posisi tangan saat menggendong sangat penting dalam hal mencegah kecelakaan. Sementara untuk untuk menjaga posisi tangan agar tidak mudah lelah dan menjaga mood bayi, lakukan pergantian posisi. Cara ini dapat mencegah kecelakaan karena tangan yang terlalu kelelahan.

Lakukan hal yang sama, baik anda dengan atau tanpa menggunakan baby carrier yang melintang di bahu.

Seperti olahraga, untuk menjaga stamina saat menggendong bayi, lakukan secara bertahap. Dengan awal menggendong berdurasi kecil, dan bisa ditambah seiring seringnya Anda melakukan ini untuk berinteraksi dengan si kecil. Seperti, jika awalnya hanya 15 menit, kegiatan yang sama dapat meningkat 30 menit jika Anda merasa mampu.

Posted in Baby

Permalink

Mengungkap Kebenaran Mitos Tidur Bayi

Mitos-Tidur-Bayi

Sudah bukan jadi rahasia, pentingnya tumbuh kembang si kecil sering berawal dari kebutuhan tidur yang cukup. Sayangnya, pengetahuan yang kurang dari orangtua kerap membuat hal ini kurang maksimal, sehingga tidur si kecil menjadi kurang berkualitas, meski dalam kuantitas sangat cukup. Nah selain memperhatikan kebutuhan Baby Gear & Furniture, dalam hal ini apa saja yang perlu diperhatikan ?

Seperti disampaikan oleh Konsultan anak dari Divisi Tumbuh Kembang Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM, Dr. Rini Sekartini, SpA(K), pada dasarnya anak usia 0-3 bulan memiliki kebutuhan tidur 16 sampai 20 jam. Yang artinya 80% kegiatan sehari-hari si kecil dihabiskan dengan tidur.

Sadar akan hal tersebut, tak sedikit orangtua kerap memenuhi kebutuhan tidur si kecil berdasarkan mitos yang berkembang di dunia parenting, soal kebutuhan tidur si kecil. Yuk, kita lihat kebenaran beberapa mitos-mitos yang banyak berkembang tersebut :

Kuantitas tidur bisa dimodifikasi

Mitos ini membuat orangtua percaya, saat bayi sudah terlalu lama tidur di malam hari, maka mereka tak memerlukan tidur siang terlalu lama, atau bahkan tidak usah tidur sama sekali.

Faktnya, meski bayi sudah terlalu lama tidur di sore hingga malam hari, tidur siang wajib dilakukan, meski hanya sebentar. Menurut Rini, biasanya bayi memiliki jumlah jam tidur sama antara siang dan malam hari. Tapi jika saat malam tidur mereka sudah lama, bukan berarti si kecil tak butuh tidur siang. Karena hal ini biasanya kerap berhubungan dengan pola perkembangan si kecil.

Lalu bagaimana jika si kecil menolak waktu tidur siangnya? Untuk membuat si kecil tertidur, ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Seperti memandikan si kecil dengan air hangat, menggendong sebentar, memijat atau aktivitas lain yang kerap membuat si kecil mengantuk dan tidur.

Tidur Kurang, Kecerdasan terganggu

Faktanya, hal tersebut benar adanya. Karena hal tersebut telah dibuktikan dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh National Sleep Foundation. Dalam risetnya, lembaga ini menemukan anak dengan kebutuhan tidur kurang kerap mengalami masalah dalam hal prestasi. Baik dalam prestasi belajar sampai prestasi olahraga.

Bayi 3 bulan mulai memiliki jam tidur normal

Orang sering percaya, 3 bulan setelah dilahirkan, bayi biasanya memiliki jam tidur lebih teratur. Terlebih saat tidur dimalam hari, bayi kemungkinan besar tidak akan terbangun karena satu dan beberapa hal.

Faktanya, di usia 3 bulan, bayi kerap bangun secara tiba-tiba di malam hari, terutama bayi yang terbiasa dengan ASI. Biasanya mereka akan terbangun 3-4 jam saat tidur karena ingin minum susu. Sementara untuk bayi dengan konsumsi susu formula, mereka biasanya akan terbangun setelah 6 jam. Selain karena lapar, bayi kerap terbangun karena beberapa hal, seperti kepanasan, kedinginan dan susah bernafas.

Saat lelah bayi akan tidur nyenyak, meski larut malam

Faktanya, terlalu malam bayi tidur, hormon stres mereka akan bekerja, dan membuat bayi terjebak dalam situasi hyperalert. “Justru dengan begitu bayi akan susah ditenangkan sehingga lebih susah tidur dan bahkan bisa menyebabkannya sering terbangun di tengah malam,” kata Dr. Rini

Posted in Baby

Permalink

Mengenal Gerakan-gerakan Reflek si Kecil

Refleks Si Kecil

Seperti orang dewasa, bayi juga memiliki sejumlah gerak reflek yang kerap dilakukan tanpa disadari tapi diulang-ulang. Nah pentingnya mengenal gerakan ini, dapat membantu orangtua dalam memahami keinginan, keluh kesah si kecil dan mungkin memilih produk Popok Bayi yang tapat.

Gerakan reflek pada si kecil mulai dilakukan bahkan beberapa jam setelah dilahirkan. Biasanya hal ini memiliki makna khusus dan sering menjadi indikasi bayi menginginkan sesuatu. Lebih jelasnya, berikut beberapa gerakan reflek yang kerap dilakukan si kecil :

Mencari sumber sentuhan, atau biasa dikenal dengan rooting

Gerakkan ini biasanya dilakukan bayi saat bagian tertentu pada wajahnya tersentuh jari dalam waktu agak lama. Bagian wajah tersebut antara lain pipi, bibir, dan ujung mulut si kecil. Setelah tersentuh, biasanya bayi akan memalingkan muka ke sumber sentuhan sembari membuka mulut.

Gerakan ini biasanya disebut reflek si kecil dalam mencari puting susu, atau biasa kita kenal dengan istilah, inisiatif menyusu dini (IMD). Tak hanya itu, lakukan cara ini untuk mengetahui apakah bayi sedang lapar atau tidak. Karena pada bayi yang sudah kenyang, sentuhan ini biasanya tak lagi berdampak gerakan oleh si kecil. Gerakan ini biasanya akan hilang dengan sendirinya, atau rata-rata saat si kecil berusia 4 bulan.

Menghisap. Kebiasaan ini bahkan sudah ada pada bayi, yang masih dalam bentuk janin di dalam kandungan kebiasaan menghisap biasanya akan muncul pada usia kehamilan ke 34 bulan. Setelah lahir, kebiasaan ini umumnya akan tetap dilakukan bayi, sampai usia 2-3 bulan. Kebiasaan ini biasanya dilakukan secara reflek. Sementara pada bayi yang masih melakukan hal ini hingga usia lebih dari 3 bulan, biasanya hal ini sudah bukan lagi disebut gerakkan reflek.

Gerakan Moro. Gearakan ini biasanya ditandai dengan sikap tangan dan kaki terbuka, diikuti oleh jari jemari saat si kecil di posisikan terlentang. Setelah melakukan hal tersebut, biasanya bayi akan kembali menekuk tangan dan kakinya, seperti posisi memeluk.

Reflek ini juga kerap muncul pada saat si kecil kaget ditengah-tengah istirahatnya. Biasanya gerakan reflek ini akan ada sampai anak berusia 4 bulan, dan akan hilang seiring anak berusia 6 bulan. Beberapa orangtua kerap mengira kebiasaan ini adalah kejang, padahal bukan. Karena gerakan moro hanya terjadi dalam beberapa detik saja, berbeda dengan kejang yang biasanya berdurasi lebih lama.

Menggenggam. Letakkan jari Anda di telapak tangan si kecil, maka seketika jari Anda akan dicengkeram dengan kuat. Respon ini akan muncul bahkan beberapa saat setelah si kecil dilahirkan. Dan akan semakin kuat dalam beberapa bulan perkembangannya.

Genggaman kaki. Seperti tangan, reflek genggaman juga kerap muncul pada kaki si kecil. Gerakan ini biasanya akan tetap muncul sampai usia si kecil 12 bulan. Gerakan ini biasanya muncul saat telapak kaki ditempelkan atau diusap, maka seketika jari-jari si kecil akan terlihat seakan mau mencengkeram.

Suka menarik. Kebiasaan ini akan muncul seiring si kecil dapat mencengkeram atau usia 3 bulan keatas. Bayi akan cenderung menarik-narik apa saja yang dapat diraihnya.

Posted in Baby

Permalink

Mengenal Beda Gumoh dan Muntah Pada Bayi

Jurus SSSSS

Bagi sebagian besar orangtua, istilah gumoh kerap diidentikkan atau disamakan dengan muntah. Padahal pada bayi istilah gumoh pada dasarnya berbeda dengan muntah yang biasa juga dialami oleh orang dewasa. Dan pada bayi, gumoh juga kerap disebabkan karena makanan bayi.

Gumoh pada bayi biasanya kerap terjadi ketika si kecil mengeluarkan kembali susu yang telah diminumnya. Bukan masalah besar, karena hal ini rupanya wajar terjadi di kebanyakan bayi yang mengkonsumsi susu formula atau ASI.

Berbeda satu dengan yang lain, pada dasarnya gumoh berbeda dengan muntah. Hal ini biasanya dibedakan berdasar volume cairah yang keluar melalui mulut. Gumoh biasanya terjadi dengan keluarnya cairan lebih sedikit, umumnya hanya sebanyak 10ml saja.

Dan hal ini biasanya berupa cairan yang barusaja dikonsumsi oleh si kecil, seperti susu (Yang masih belum berubah warnanya). Sementara muntah, biasanya terjadi dengan volume cairah lebih banyak. Dan seperti orang dewasa, bayi juga dapat muntah karena satu dan beberapa hal.

Gumoh dalam bahasa asing biasa dikenal dengan istilah gastroesophageal reflux. Masalah ini biasanya terjadi karena pergerakan otot di perut si kecil, yang memiliki struktur belum sempurna. Dan hal ini kerap terjadi pada bayi berusia sebelum satu tahun.

Meski terjadi secara spontan, gumoh ternyata dapat dihindari risikonya. Terutama dalam hal pemberian susu yang tepat, baik varian atau jenis dan kuantatitas pembeliannya harus sesuai. Atau berikut beberapa cara mengatasi gumoh dari kebiasaan memberikan susu untuk si kecil :

Beri susu sebelum bayi lapar. Saat terlalu lapar, bayi umumnya akan meminum susu dengan sangat cepat. Hal ini yang pada akhirnya memungkinkan udara masuk dan tertelan. Kemudian udara tersebut akan terperangkap di dalam perut.
Sedikit demi sedikit, hingga kebutuhan terpenuhi. Perut bayi yang masih kecil, biasanya akan langsung bergejolak saat menerima asupan susu terlalu banyak. Pemberian susu yang ideal adalah 30-50 ml (tergantung usia bayi). Atau jika bayi mengkonsumsi ASI, berhentilah menyusu setiap 5-10 menit, tergantung kebutuhan bayi.

Gunakan botol dengan dot yang pas. Terlalu besar dot akan membuat aliran susu berjalan terlalu cepat. Begitu juga sebaliknya terlalu kecil lubang dot akan membuat aliran susu mudah terhambat, dan udara pada akhirnya sering masuk.

Penggunaan diaper terlalu ketat. Biasanya terlalu ketat penggunaan diaper akan membuat bagian perut si kecil terdesak, kondisi ini pada akhirnya berisiko membuat si kecil mudah gumoh.

Gendong dengan posisi tegak setelah minum. Cara ini akan membuat bayi bersendawa, udara yang keluar akan menurunkan risiko anak mengalami gumoh. Idealnya, cara ini dilakukan setelah si kecil menerima susu 30-50ml.

Untuk membuat si kecil gumoh, gendong dengan posisi badan bayi menghadap badan Anda. Tepuk-tepuk bagian punggung si kecil secara lembut. Lakukan hal ini berulang-ulang, dalam beberapa menit, bayi biasanya akan langsung bersendawa, diikuti senyum puas.

Posted in Baby

Permalink

Jurus ‘SSSSS’ Untuk Menidurkan Bayi

Jurus SSSSS

Secara umum, bayi sering menangis karena beberapa faktor. Diantaranya berhubungan dengan Feeding & Nursing, seperti lapar, sakit perut, mengantuk, kegerahan, kedinginan, ingin digendong, atau bosan. Nah, saat si kecil menangis, jangan panik, atasi dengan jurus SSSSS (5S),.

Beberapa orangtua, terutama bagi yang baru saja dikaruniai seorang momongan dan harus merawat sendiri, menghentikan tangisan bayi bisa jadi hal paling sulit dilakukan. Ketakutan akan terjadi masalah serius karena salah menggendong dan tak tahu apa yang harus dilakukan seiring suara tangis yang kian keras kerap menjadi situasi kian tak terkendali.

Karena masalah ini, beberapa fenomena muncul, salah satunya sindrom ‘baby Blues’. Tak hanya ibu, sindrom ini juga kerap menyerang ayah dan siapa saja yang tak tahu bagaimana merawat dan menghentikan tangisan bayi secara efektif.

Menurut Dr Harvey Karp, ahli parenting, pada dasarnya untuk menghentikan tangisan si kecil, orangtua harus ingat rumus ‘SSSSS’ (5 S). Jurus ini bisa diaplikasikan bahkan sejak beberapa hari setelah bayi dilahirkan. Berikut penjelasan 5 S untuk menghentikan tangisan bayi

Swaddling atau Bedong. Biasanya bayi akan sulit beradaptasi dengan lingkungan sekitar beberapa hari setelah dilahirkan. Mereka kerap ingin situasi hangat seperti di dalam rahim ibu, dan jika tak terpenuhi, tak jarang bayi akan menangis dengan keras karena kedinginan.

Solusinya adalah dengan cara membedong. Posisi ini bayi akan terdekap dengan hangat. Sensasi ini hampir sama seperti yang dirasakan bayi di dalam perut. Meski disarankan, jangan membedong terlalu kencang, dan pilih kain bedong yang membuat bayi terhindari dari masalah keringat dan gerah.

Stomach position. Bila tips pertama gagal, anda bisa melakukan cara kedua, yakni memperhatikan posisi perut agar bayi lebih nyaman. Caranya, posisikan mirik bayi atau dalam keadaan tengkurap. Cara ini secara reflek akan membuat tangisan bayi mereda.

Swinging. Cara lain agar bayi mau menghentikan tangisannya adalah dengan cara menggendong. Ayun dengan lembut si kecil sembari berbicara. Cara ini tak hanya membuat bayi nyaman dan terdiam dari tangisan. Tapi juga menjadi awal proses belajar skil linguistik.

Shushing. Ucapkan kata “sus” secara berulang-ulang dan beritme secara lembut. Biasanya cara ini jika dikombinasi dengan gendong, akan membuat si kecil mudah tenang. Sehingga tak jarang, selain menghentikan tangisan, cara ini juga dapat membuat si kecil mudah terlelap.

Suck. Atau menghisap, caranya dengan memberi susu atau mainan hisap seperti yang biasa disukai oleh si kecil. Cara ini biasanya ampuh membuat si kecil tenang dan tak lagi menangis karena satu dan beberapa hal.

Dalam kondisi darurat, banyak cara untuk menggantikan empeng untuk alasan menghentikan tangisan bayi. Caranya biarkan bayi menghisap jarinya sendiri. Tenang, karena kebiasaan ini bisa dilakukan bayi meski baru beberapa hari dilakukan. Yang terpenting dalam hal ini adalah senantiasa menjaga kebersihan tangan si kecil agar tak ada kuman dan bakteri yang masuk melalui mulut si kecil.

Posted in Baby

Permalink

Dibalik Mitos Pola Asuh Bayi

Mitos Pola Asuh Bayi

Karena masalah keamanan dan kesehatan, banyak mitos yang berkembang seputar pola asuh bayi, terutama si kecil yang baru beberapa minggu, bahkan hari setelah dilahirkan. Nah, dari beberapa mitos yang kerap dipercaya tersebut, yuk kupas satu per satu kebenaran mitos demi Healthy & Safety si kecil dari sudut pandang ilmiah.

Suka ngempeng = Terlambat bicara

Beberapa orang percaya, kebiasaan ngempeng yang dilakukan terlalu sering oleh bayi kerap berdampak kurang baik. Dalam hal ini membuat si kecil akan mengalami kesusahan dalam proses belajar berbicara.

Faktanya, kebiasaan ngempeng tak mempengaruhi proses belajar bicara si kecil. Kemampuan bicara si kecil biasanya akan berkembang seiring peran aktif orang-orang di sekitar dalam hal memulai berkomunikasi. Karena kebiasan ini biasanya akan mudah berkembang melalui proses ‘learning by doing’.

Lingkar kepala, indikasi kecerdasan

Dr. Linda Dunlap, guru besar psikologi tumbuh kembang di Marist College, Poughkeepsie, New York mengatakan, kualitas kecerdasan anak tak bisa dilihat dari seberapa besar kepala mereka. Karena dalam hal kecerdasan, hal ini kerap berhubungan dengan jumlah dan kualitas hubungan antar sel saraf. Jadi bagi Anda yang memiliki anak dengan lingkar kepala kecil, jangan khawatir. Karena hal tersebut tak mengindikasikan anak akan tumbuh kurang cerdas di kemudian hari.

Sering digendong akan membuat anak jadi manja

Mitos tersebut sepenuhnya tak bisa dipertanggung jawabkan dan salah. Karena kebiasaan menggendong dan memeluk bayi setiap saat akan memberi dampak positif pada si proses perkembangan si kecil kelak.

Dalam sebuah riset tentang hal ini mengatakan, anak yang kerap digendong dan dipeluk orangtuanya relatif lebih percaya diri ketimbang anak yang jarang digendong atau dipeluk orangtua mereka. Tak hanya itu, kegiatan ini akan membuat hubungan baik antara orangtua dan anak, serta meningkatkan kemampuan anak dalam beradaptasi dengan lingkungan sekitar.

Sering memalingkan wajah saat makan, indikasi anak suka pilih-pilih makanan

Pada dasarnya, bayi pilih-pilih makanan sudah hal biasa, namun jika ia tumbuh menjadi anak yang suka pilih-pilih makanan, bisa jadi hal tersebut kesalahan dari orangtua. Karena umumnya, meski sedikit demi sedikit, makanan yang ditolak si kecil, jika kerap diberikan secara berkesinambungan maka anak pun akan menyukainya.

Hal tersebut dijelaskan oleh Dr. Michele Borba, penasihat Parents dan penulis The Big Book of Parenting Solutions. Menurutnya, untuk memutus kebencian si kecil terhadap jenis makanan tertentu, ada baiknya Anda berika secuil demi secuil makanan tersebut. Tak mustahil, jika terbiasa bayi akan mulai menyukainya.

Posted in Baby

Permalink

Bayi Sering Nangis Tiba-tiba, Bisa Jadi Ini Penyebabnya

Bayi Sering Nangis

Keterbatasan komunikasi membuat bayi kerap berinteraksi dengan cara menangis. Menangis biasanya identik dengan kegelisahan bayi, karena ada yang tak beres sedang mereka alami. Entah itu lapar, butuh susu bayi, suasana lingkungan yang kurang nyaman dan sebagainya.

Terlepas dari kebutuhan bayi yang harus segera terpenuhi, tangisan bayi yang keras dan tiba-tiba kerap membuat suasana gaduh di rumah. Beberapa orang berhasil menangani tangisan bayi dengan cara sederhana, namun beberapa orang kerap kesusahan dalam mengatasi masalah ini. Nah, seperti dikutip Boldsky, berikut penyebab bayi sering menangis secara tiba-tiba, terutama pada saat malam hari :

Ingin mengganti posisi tidur

Karena alasan keamanan, kadang orangtua membatasi gerak si kecil saat tidur. Hal ini yang kerap membuatnya merasa kurang nyaman, terlebih saat bosan dengan satu jenis posisi tidur. Terlebih lagi minimnya kemampuan gerak membuat hal sederhana ini susah dilakukan oleh si kecil. Jalan keluarnya, bayi kerap minta tolong orang di sekitar untuk membantunya bergerak sesuai dengan keinginan.

Suhu sekitar kurang bersahabat

Seperti orang dewasa, suhu sekitar yang kurang bersahabat kerap membuat perasaan kurang nyaman. Pada bayi, hal ini kerap berpengaruh signifikan karena karakter kulit yang masih sangat sensitif.

Dampaknya, udara sekitar yang terlalu dingin atau terlalu panas, kerap membuatnya sangat kurang nyaman. Dan hal ini kerap direpresentasikan dengan tangisan keras secara tiba-tiba. Tangisan ini biasanya tak kunjung usai sebelum Anda membuat udara di sekitar si kecil lebih nyaman.

Kurang atau terlalu banyak tidur

Seperti halnya kebutuhan untuk mengisi perut, pada dasarnya tidur pada bayi berusia belum sampai satu tahun juga memiliki siklus tersendiri. Yakni dengan kebutuhan tidur rata-rata 14 sampai 15 jam setiap harinya.

Jam tidur tersebut terdiri dari 8 jam tidur di malam hari, enam sampai tujuh jam tidur di siang hari. Saat terbangun tak sedikit bayi umumnya akan langsung menangis, sehingga berharap ada seseorang yang menghampiri dan menggendongnya.

Masalah lain

Selain beberapa masalah diatas, tak jarang tangisan juga kerap muncul karena berbagai persoalan. Seperti masalah kesehatan, kecelakaan dan gigitan dari binatang. Untuk itu selalu cek apa yang sedang terjadi untuk memastikan tidak ada masalah berarti yang sedang dialami oleh si kecil.

Selain masalah kesehatan, bayi yang tumbuh gigi juga kerap menangis tanpa sebab. Ini biasanya disebabkan karena rasa sakit yang timbul setelah gigi mendesak gusi di proses awal munculnya gigi pertama untuk si kecil.

Posted in Baby

Permalink

Aneka Gangguan Kesehatan Pada Bayi

Aneka Gangguan Kesehatan Pada Bayi

Beberapa masalah kesehatan yang kerap muncul pada si kecil kerap membuat orangtua sering khawatir tentang Healthy & Safety si buah hati. Organ tubuh yang masih sederhana, membuat mereka perlu adaptasi beberapa hari, minggu atau bahkan bulan kedepan, jadi saat hal ini muncul perlukah panik ?

Beberapa gejala terebut diantaranya bersin seperti flu, batuk hingga nafas yang terasa berat. Hal ini yang kerap membuat gejala masalah kesehatan kerap muncul pada si kecil. Nah jika hal ini muncul, tetap tenang dan jangan panik. Karena biasanya hal ini akan berlangsung beberapa saat sebelum akhirnya hilang dengan sendirinya.

Berikut gejala umum masalah kesehatan yang kerap dialami si kecil setelah mereka dilahirkan :

Bunyi pada nafas. Pada dasarnya, hampir semua organ tubuh si kecil paska dilahirkan masih bekerja belum optimal dan masih beradaptasi, termasuk organ paru-paru. Dalam hal ini organ Paru masih terbentuk kurang sempurna.

Jadi tak heran, hal ini membuat aktivitas nafas si kecil kerap terlihat berat dan tidak teratur. Perlu beberapa penyesuaian dan adaptasi oleh si kecil agar nafasnya berangsur-angsur normal. Jadi saat ini terjadi jangan panik dan jangan keburu bawa si kecil ke dokter. Karena hal ini akan berangsur-angsur normal dalam beberapa saat kedepan.

Bersin-bersin seperti terserang flu. Seperti nafas yang masih tidak teratur, kondisi paru-paru yang masih beradaptasi kerap membuat munculnya gejala lain, yakni bersin-bersin. Hal ini biasa terjadi pada bayi yang barusaja dilahirkan, dan dikarenakan cairan yang masih tertinggal di paru-paru si kecil.

Jika tak disertai gejala lain, maka hal ini bisa jadi normal dan tak perlu disikapi dengan panik, karena akan hilang dengan sendirinya. Namun jika disertai dengan demam, keringat dingin dan sesak nafas, berkonsultasi ke dokter adalah solusi tepat, untuk mengetahui permasalahan yang sedang dialami oleh si kecil.

BAB tidak teratur. Berbeda dengan orang dewasa yang kerap memiliki waktu untuk BAB (Buang Air Besar), pada bayi, waktu ini tidak berlaku. Dan saat BAB si Kecil biasanya lebih tidak teratur. Bisa beberapa kali atau hanya sekali dalam sehari. Atau bahkan ada bayi yang BAB hanya beberapa kali dalam seminggu. Hal ini normal terjadi pada kebanyakan bayi setelah dilahirkan, karena proses pencernaan mereka masih dalam tahap adaptasi.

Pada dasarnya bukan kuantitas yang perlu dicemaskan dalam fase ini, tapi bentuk kotoran paling penting di cermati. Terlebih jika kotoran si kecil terlalu lembek dan bercampur dengan darah, bisa jadi indikasi si kecil mengalami masalah konstipasi.

Mata berkaca-kaca. Pada dasarnya ini merupakan proses normal si kecil dalam hal mengeluarkan kotoran yang ada di mata. Dan biasanya ini terjadi begitu saja, tanpa harus si kecil menangis karena masalah tertentu.

Kondisi mata berair ini juga kerap membuat bulu mata melekat satu dengan yang lain, seperti gejala sakit mata pada orang dewasa. Dan kebanyakkan hal ini kerap terjadi karena saluran air mata si kecil belum berfungsi sebagai mana mestinya.

Untuk memperlancar saluran air mata, anda bisa memijat dengan lembut sekitar hidung di bawah mata. Dan untuk membersihkan kotoran di sekitar mata yang keluar dengan air mata, gunakan lap hangat.

Bayi Bisa Melucu Lho

Bayi Bisa Melucu

Salah satu kemampuan dasar yang dimiliki oleh bayi, bahkan saat usia beberapa bulan setelah mereka dilahirkan adalah melucu. Hal ini yang kerap menjadi hiburan tersendiri bagi kebanyakkan orangtua. Pertanyaannya, dari mana bakat lucu pada si kecil ini di dapat ? dan apakah hal ini berkaitan dengan pemilihan Susu Bayi yang baik ?

Kadang tak sedikit orangtua bingung, meski usia baru beberapa bulan, kenapa si kecil tahu harus berbuat apa untuk membuat orang di sekitar tertawa, bahkan terpingkal dengan tingkal lakunya. Fakta kemampuan ini yang kemudian menarik perhatian para ilmuwan untuk melakukan penelitian untuk mencari sumbernya.

Bukan seperti kemampuan naluriah lain, ternyata bakat me-lucu si kecil muncul dari bagian adaptasi mereka terhadap lingkungan sekitar. Dalam hal ini, kemampuan ini di dapat si kecil dari orang sekitar mereka yang kerap melakukan banyak usaha untuk membuat si kecil tersenyum atau tertawa.

Hal ini dibuktikan dalam sebuah penelitian ilmiah yang dilakukan oleh tim dari Cardiff University’s School of Psychology. Dalam penelitian ini didapat, proses dan kemampuan si kecil membuat orang sekitar tertawa merupakan proses tumbuh kembang mereka dalam hal adaptasi dengan lingkungan sekitar.

Untuk mengetahui hal ini awalnya para peneliti melontarkan beberapa lelucon sederhana pada bayi sebagai obyek yang diteliti. Kemudian para peneliti melihat respon yang dilakukan si kecil setelah lelucon tersebut dilakukan di depan mereka.

Dari kegiatan sederhana ini para peneliti menemukan bahwa bayi melakukan proses perekaman dan peniruan dari apa yang mereka lihat, atau hal ini biasa dikenal dengan proses mimikri. Setelah berhasil melihat, tak jarang bayi akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh para peneliti.

Dari kegiatan ini didapat fakta bahwa proses peniruan dilakukan sejak si kecil berusia beberapa bulan. Dan apa yang dilakukan si kecil sedikit banyak di pengaruhi oleh prilaku orang sekitar, dalam hal ini orangtua yang berperan besar dalam memberi bakat me-lucu pada si kecil.

Tak hanya lelucon dalam bentuk mimik, tak jarang orangtua melontarkan bebunyian hewan yang sengaja dilakukan untuk membuat si kecil tersenyum. Dan usaha ini ternyata ampuh dalam meningkatkan kemampuan si kecil dalam membedakan mana bebunyian atau suara yang dapat mengundang tawa, dan mana bunyi yang tidak mengundang tawa.

Dan seperti kemampuan yang lain, kemampuan melontarkan humor pada si kecil akan meningkat seiring dengan pertambahan usia mereka. Para peneliti menemukan, kemampuan membuat orang sekitar terpingkal akan dimiliki dengan baik saat si kecil berusia 18 bulan.

Para peneliti juga menemukan bahwa usia 2 tahun adalah masa lucu-lucunya kebanyakan anak. Karena pada usia ini anak memiliki kemampuan untuk membedakan mana lelucon yang lucu dan mana lelucon yang tidak lucu.

Disadari atau tidak, kebiasaan orangtua ternyata mempengaruhi sebagian besar perilaku anak di beberapa bulan usia mereka setelah dilahirkan. Termasuk membuat orang sekitar tertawa, dan bahkan kemampuan linguistik si kecil saat mereka mulai menguasai komunikasi dan bahasa di kemudian hari.